adf.ly

Senin, 28 Februari 2011

Kuau Besar: Berciri Khas Punya Suara Tanda Bahaya

(Argusianus argus Linne)
Nama lain: Kuang
Suku: Phasianidae

Latar Belakang
Burung ini sudah cukup dikenal oleh masyarakat Minang sejak lama. Ungkapan-ungkapan atau pantun yang pernah muncul dalam masyarakat Minang yang berkaitan dengan burung "Kuau" ini cukup tenar. Menurut Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor : 421/Kpts/Um/B/1970 burung ini sudah dilindungi karena sudah tergolong langka. Mengingat tubuhnya yang cukup besar/berat, berbentuk indah dan panjang umumnya, maka pembudidayaannya akan bermanfaat baik sebagai sumber protein maupun sebagai hewan piaraan yang mempunyai nilai estetika/keindahan. 

Sudah lama diketahui bahwa penduduk terutama yang tinggal dekat hutan telah memanfaatkan daging burung ini sebagai makanan yang lezat dan bergizi.

Pertelaan
Burung ini mudah sekali dikenal karena memiliki bentuk tubuh yang indah dan spesifik. Tubuh yang jantan lebih besar dan berbulu dengan corak yang lebih menarik daripada yang betina. Berat yang jantan dapat mencapai sekitar 11,5 kg dan panjang tubuhnya sampai ujung ekor mendekati 2 meter. Hal ini disebabkan dua lembar bulu ekornya bagian tengah mencolok sekali panjangnya. Umumnya bulu tubuh berwarna dasar kecoklatan dengan bundaran-bundaran berwarna cerah serta berbintik-bintik keabu-abuan. Kulit di sekitar kepala dan leher pada yang jantan biasanya tidak ditumbuhi bulu dan berwarna kebiruan. 

Pada bagian occipital (bagian belakang kepala) betina mempunyai bulu jambul yang lembut. Paruh berwarna kuning pucat dan sekitar lobang hidung berwarna kehitaman. Iris mata berwarna merah. Warna kaki kemerahan dan tidak mempunyai taji/susuh.

Suara burung ini sangat lantang sehingga dapat terdengar dari kejauhan lebih dari satu mil. Suara yang jantan dapat dibedakan karena mempunyai interval pengulangan yang pendek. Sedangkan yang betina suaranya mempunyai pengulangan dengan interval semakin cepat dan yang terakhir suaranya panjang sekali. Burung ini mempunyai suara tanda bahaya yang cirinya pendek, tajam dan merupakan alunan yang parau.

Habitat & Penyebaran
Burung ini suka hidup di kawasan hutan, mulai dari dataran rendah sampai pada ketinggian sekitar 1000 m di atas permukaan laut. Penyebaran burung ini adalah di Sumatera dan Kalimantan. Juga terdapat di Asia Tenggara.

Makanan
Makanannya terdiri dari buah-buahan yang jatuh, biji-bijian, siput, semut dan berbagai jenis serangga. Burung ini juga suka mencari sumber air untuk minum sekitar jam sebelas siang.

Perkembangbiakan
Tingkah laku sampai terjadinya perkawinan ini berlangsung dalam tiga fase pertunjukkan tarian, yaitu fase perangsang, fase si jantan menegakkan bulu tubuhnya dengan menghadapi si betina secara vertikal dan fase si jantan menunggangi si betina secara berirama. Burung ini bertelur yang biasanya berjumlah dua butir. Warna telurnya kream atau kuning keputihan dengan bercak-bercak kecil diseluruh permukaan. Ukurannya sekitar 66 X 47 mm. Telur ini dierami oleh betina selama kurang lebih 25 hari. 

Anak yang ditetas akan tinggal disarangnya bersama induknya untuk beberapa saat dan kemudian mengiringi induknya kemana induknya pergi. Anak burung ini akan mencapai tingkat dewasa kurang lebih dalam satu tahun.
***
Sumber: Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Nasional, KLH RI (http://bk.menlh.go.id)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar