adf.ly

Minggu, 21 Desember 2008

Anggrek, Tips Memilih Sebelum Membeli


Anda berencana untuk menambah koleksi anggrek anda ?. Sebelum memutuskan untuk membeli, beberapa tips berikut mungkin bisa membantu.

• Pilihlah anggrek yang Sehat dengan daun hijau sedang, mengkilat dan polos tanpa bercak. Hindari tanaman yang terdapat bercak kuning atau cokelat pada daun dan batang, karena kemungkinan terserang penyakit.

• Memiliki batang atau umbi semu (pseudobulb) yang gemuk, kuat dan polos tanpa bercak. Hindari batang/pseudobulb yang berkerut (kemungkinan karena kekurangan air).

• Memiliki anakan baru yang lebih banyak (untuk anggrek sympodial), sehingga jika yang dewasa mati, ada gantinya. Selain itu, peluang untuk berbunga juga lebih besar.

• Memiliki bekas tangkai bunga lebih banyak, yang berarti anggrek tersebut tergolong rajin berbunga.

• Bertangkai bunga utuh. Tangkai terpotong adalah salah satu sifat menurun sehingga pada pembungaan berikutnya kemungkinan juga akan terpotong.

• Kuntum bunga dalam keadaan setengah mekar dan utuh (tepi bunga tidak mengkerut), agar lebih lama menikmati keindahan bunganya setelah dibeli.

• Batangnya kokoh tertanam pada pot. Jika mudah goyang ada kemungkinan anggrek tersebut baru di tanam ulang atau sistim akarnya tidak baik.

• Periksa medianya, apakah terdapat hama (serangga kecil) yang merayap. Hindari tanaman yang ber hama.

• Lihat tangkai bunganya, apakah memang berasal dari tanaman atau hanya bunga potong yang ditancapkan pada pot. Ada penjual anggrek nakal, yang menancapkan bunga potong pada tanaman yang sebenarnya belum berbunga dengan maksud agar nilai jual anggrek tersebut bisa lebih tinggi.

Semoga membantu.

anggrek.info
Pic From pachd



Sabtu, 20 Desember 2008

TABULAMPOT, Solusi Pas Lahan Terbatas

Keterbatasan lahan tak mesti mengekang hobi pertanian. Sebagian pehobi coba kutak-kutik. Mereka tetap melakukan hobi berkebun walau ruang yang tersedia tak cukup luas. Jangan sebut kata luas, tapi pas-pasan. Lewat sebuah kebetulan, muncul alternatif baru untuk menjawab kelangkaan lahan tadi. Dari situ, pilihan tempat untuk menanam tak lagi terbatas di lahan terbuka, macam pekarangan atau kebun, namun sudah merambah pada
media pot. Inilah yang disebut tanaman buah dalam pot atau yang di kalangan pehobi disebut ”tanbulampot”.

”Tanbulampot memang dikenal sebagai solusi bertani bagi orang-orang kota. Dengan lahan sempit, orang-orang kota itu ingin bisa menikmati buah dari pohon yang mereka tanam,” ungkap Lily Turangan (57), salah seorang pehobi tanaman di bilangan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Ibu yang mengaku cinta tanaman sejak usia sekolah dasar ini amat tergila-gila dengan tanaman buah dalam pot. Buktinya, ia tak cuma menanam pohon buah dalam pot saja tapi ikut mengembangbiakkan tanaman itu.

Menurut Ir. Joesi Endah, penggemar tanaman yang juga konsultan pertanian, budi daya sistem tanaman buah dalam pot tak hanya melahirkan solusi bertani bagi orang kota atau pemilik lahan sempit, namun juga mengandung kolaborasi antara teknologi pertanian dan nilai estetika.

Awalnya, cara bertanam di dalam pot hanyalah sebagai kegiatan iseng beberapa penangkar buah. Ini dilakukan karena bibit tanamannya tak banyak yang laku terjual. Kejadian ini berlangsung pada awal delapan puluhan. Saat itu, urusan jual-beli bibit tanaman buah belum semeriah sekarang.

Khawatir bibit yang tak laku tumbuh terus, para penangkar itu nekat menanamnya dalam pot. Perawatan yang dilakukan pun tak jauh beda ketika bibit itu ditanam di tanah lapang. Hasilnya, sungguh di luar dugaan. ”Mereka bisa tetap mendapat buah. Bahkan lebih rajin berbuah dan tanamannya mudah didapat,” kata Joesi, insinyur pertanian jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Ada sejumlah keuntungan bila memelihara tanaman buah dalam pot di sekitar kita. Paling gampang, kebutuhan gizi dan vitamin keluarga bisa terpenuhi berkat buah yang hadir hampir sepanjang musim. Belum lagi, unsur penghijauan rumah meski hanya punya lahan pas-pasan. Unsur estetika dan keindahan pun bisa muncul. Coba saja lihat saat tanaman itu semarak berbuah. Warna kuning ranum berpadu hijau daun yang cantik. Lagi pula ukuran tajuk tanaman ini tergolong ”kompak” sebab tingginya hanya sekitar 1 sampai 2 meter saja.

”Penempatan secara soliter di teras atau di dalam ruangan bisa dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi tanaman. Ia juga bisa dipadukan dengan tanaman hias di taman atau halaman rumah,” ujar Joesi tentang fungsi estetika tanaman buah dalam pot.

Beragam tanaman buah saat ini sudah banyak yang berhasil dibudidayakan dengan distem pot. Lily Turangan menyebut enam jenis tanaman buah yang biasa ia tanam dengan teknik ini. ”Dari pengalaman saya, jenis mangga, jambu biji, belimbing, jeruk, srikaya dan kedondong mudah berbuah dan hidup dalam pot.”

Ada yang mudah, tentu ada pula yang sulit. Jenis alpukat, durian, gandaria dan nangka besar adalah beberapa contoh tanaman buah yang sulit ditanam sebagai tanaman dalam pot. Sedang jambu bol, jambu mawar, manggis, duku, jamblang, lengkeng, nangka madu dan rambutan termasuk contoh yang agak sulit dibudidayakan sebagai tanaman dalam pot.

Lima Syarat

Agar tanaman dalam pot rajin berbuah, Lily dan Joesi sama-sama menyebut sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Paling tidak ada lima syarat tumbuh atau faktor yang jadi pertimbangan.

Pertama, pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan ketinggian tempat.
Kedua, pemilihan bibit tanaman. Diikuti pemilihan media tanam dan pot. Lalu pemupukan yang efektif dan terakhir, pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Pengetahuan asal-usul tanaman harus sudah nyantol di otak sebelum memutuskan menanam suatu bibit tanaman buah dengan teknik pot. Ini penting. ”Jangan sampai stroberi dan apel yang merupakan tanaman di daerah dingin, ditanam di dataran rendah. Wah, mana mau berbuah dia,” kata Joesi memberi perumpamaan. Umumnya, semua jenis tanaman buah hanya dapat berbunga dan berbuah dengan baik bila ditanam di daerah berketinggian sekitar 400 m dpl.

Pemilihan bibit juga tak kalah penting. Bibit yang baik tentu akan menghasilkan – secara kualitas dan kuantitas – pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang jempolan. ”Saya menganjurkan untuk memilih bibit tanaman buah yang jelas asal-usulnya. Artinya, bibit dibeli dari penangkar tanaman yang baik dan terpercaya,” ucap Lily.

Urusan bibit selesai, langkah berikut menyiapkan media tanam dan pot. Kata Joesi, media tanam yang digunakan untuk tanaman buah dalam pot sebaiknya memenuhi syarat minimal, yaitu mengandung tanah sebesar 50 %, pasir 20 % dan bahan organik 30 %.

Dari syarat minimal tadi, bisa diterjermahkan menjadi berbagai macam komposisi bahan dasar sebagai media tanaman buah dalam pot. Bahan dasar untuk media tanam terdiri atas tanah, pupuk kandang, kompos, pupuk kimiawi dan bahan lain sebagai tambahan.
Pemilihan pot yang tepat menjadi modal awal bagi pertumbuhan tanaman. Pot yang digunakan bisa dipilih dengan memanfaatkan kaleng biskuit bekas, sisa galon air mineral, ember tak terpakai, drum bekas senyawa kimia dan lainnya. Agar menghindari kontaminasi zat, Lily menyarankan membeli wadah yang sudah dicuci. Wadah favorit tetap dipegang belahan drum bekas. Wadah ini mampu menampung seluruh sistem pengakaran.

Pemupukan harus dilakukan dengan dosis tertentu. Kelebihan dan kekurangan dosis tentu berdampak buruk bagi tanaman itu. Jenis pupuk yang bisa dipilih memang beragam. Yang pasti, tanaman buah butuh unsur hara makro, seperti N, P, K dan unsur hara mikro macam Ca, Mg dan S. Unsur hara mineral itu merupakan sumber nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Cermati pula waktu dan cara pemupukan.

Langkah terakhir, pengawasan terhadap hama dan penyakit tanaman. Faktor pengganggu ini jangan sampai mengacaukan mimpi Anda untuk memanen buah. Bayangkan betapa kecewanya hati ini saat mengetahui pertumbuhan tanaman buah terhambat oleh hama dan penyakit.

Pada tanaman buah juga dikenal teknik pemangkasan. Tujuannya, kata Joesi, untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan produksi. Pemangkasan juga mampu menjaga kelembaban tanaman sehingga tak mudah terserang hama dan penyakit.

Berdasar umur tanaman, pemangkasan terbagi menjadi tiga, yaitu pemangkasan pada pembibitan, pemangkasan tanaman yang belum menghasilkan dan pemangkasan tanaman yang sudah menghasilkan. Sedang dilihat dari tujuannya, pemangkasan dibedakan menjadi empat, yaitu pemangkasan bentuk, pemeliharaan, produksi dan peremajaan.
Bagi sebagian pehobi, tanaman buah dalam pot bisa jadi lahan bisnis yang menarik. Dengan perawatan yang cermat, tanaman buah dalam pot mampu menyedot perhatian siapa saja.

Tajuk tanaman yang tak terlalu tinggi dengan disusupi gerombol buah di ujung cabang, apalagi saat dicicipi buahnya, terasa manis dan segar, siapa yang tak kepincut. Jadi jangan heran bila ada tanaman buah dalam pot yang mampu mencapai seharga tiga juta rupiah. Wow!

sinar harapan

Jumat, 19 Desember 2008

Asal Comot

Kamis malam sambil nonton Tukul ngejailin dua cewek cantik, saya iseng surfing ke beberapa situs favorit sambil buka beberapa e-mail yang masuk. Setengah jam kesana-kemari, mata saya tertarik pada sebuat artikel tulisan seorang blogger dari Semarang di blog-nya. Sebuah pengalaman dimana beberapa foto miliknya yang dijadikan sebagai “bahan artikel” disebuah media (tabloid) tanaman hias “terkenal” pada Agustus 2008 lalu. Menurut pengakuannya, foto-foto tersebut “dicomot” tanpa izin. Lebih parah lagi
, di artikel tersebut seolah-olah sang wartawan telah melakukan wawancara dengan dia. Untuk lebih detailnya silahkan simak yang berikut ini, siapa tahu bermanfaat bagi kita semua.

Berikut artikelnya :


Setelah sempet kliru beli sebuah tabloid agro, akhirnya ktemu juga nich tabloid yang kata temen-temen memuat beberapa foto anthurium saya. wach nekat yaaa, lumayan banyak tuh foto-foto tanpa ijin dimuat disitu, itung-itung ada 12 foto deh. sebenernya ga masalah foto-foto dan nama saya “dicatut” [ehm… kaya seleb wae!], bener-bener ga apa-apa kok, terutama klo demi dan atas nama kemajuan anthurium indonesia yang saat ini sedang terjun bebas [wuich… sampai segitunya?!]. itung-itung kan nambah beken hi.. hi.. gratis tis lagi.
yang tidak habis pikir tuch konten artikelnya seolah-olah mereka [pihak tabloid/wartawan] sudah melakukan wawancara dengan saya. padahal sama sekali tidak pernah, tidak sedetikpun [ne.. ne.. ne..]. nach klo konten artikelnya ditulis secara bener, sekali lagi itu sama sekali tidak merisaukan, terima-kasih malah. tp ini? huh! asal tulis, super ngawur… [pake banget]. “pak wartawan…, mentang-mentang selama ini diem aja [halah! kaya’ udah dimuat berkali-kali aja], trus isi konten makin ngaco ya? please donk ach!” saya sih bukan pakar anthurium, bukan juga peneliti, hanya kebetulan mencintai taneman tersebut [mencintai?! kok sekarang jarang ke kebun sih?]. tapi saya rasa, temen-temen yang sedikit banyak punya ketertarikan dengan anthurium pasti bisa tau dimana kejanggalannya. banyak artikel lucu [sik sik… ketawa dulu ach…] di tabloid edisi agustus ini, tp berikut hanya saya kutip beberapa yang berhubungan dengan saya aja ya he.. he..:

saat anthuriumania di seluruh dunia berusaha keras mendapatkannya, bahkan sampai nekat menyelundupkan bijinya segala dari jamaica, spesies yang satu ini justru bisa berbiak dengan apik di semarang. “saya membiakkannya juga dari biji yang saya dapatkan dari amerika,” tutur maria rina, kolektor asal semarang.
[hal 5]


eeit… dapat info dari mana bang! kapan saya pernah membiakkan anthurium mancuniense? kapan saya membeli bijinya? jangan sembarangan ach!
buat rekan-rekan yang menanyakan masalah biji dan anakan, mohon maaf ya… saya tidak ada barang yang dimaksud.
nach-nach ini lagi, kata “menyelundupkan” bisa bikin kuping panas lho. bukan kuping saya sih, tp kuping balai karantina tumbuhan, departemen pertanian. janji tanggung-jawab yak klo ada apa-apa…

anthurium colonicum.
ada sejumlah breeder di jateng yang membiakkannya dalam jumlah besar. pasalnya spesies yang satu ini dulunya pernah menjadi favorit penghias halaman rumah-rumah mewah. dibanding jantung hati melambai lainnya. daun colonicum tak begitu bisa tumbuh memanjang. bahkan sudut daun dengan tangkainya relative lebih lebar. tulang daun dan serat daunnya juga tak begitu ekstrem menonjol.
[hal. 6]



isi artikel sih tidak menyinggung nama maria rina he… he… tapi karna foto yang dipajang adalah foto koleksi saya, boleh dong kasih komen. breeder yang dimaksud bukan saya lho… bener bukan [kok ke gr an sih!]. emang beberapa waktu lalu di semarang sempet beredar bibitan yang disebut sebagai magnesium [setahu saya sih ini nama sejenis unsur mineral] yang keliatannya mirip dengan jenis anthurium ini. dan setahu saya sih taneman ini daunnya bisa sangat panjang.
sedikit tambahan: sampai saat ini saya belum begitu faham perbedaan antara anthurium colonicum dan anthurium pseudospectabile, karena keduanya benar-benar mirip.

radicans x dresslerii.
lagi-lagi anthurium dresslerii diambil serbuksarinya buat dioleskan ke tongkol betina keluarga sirih. namun kali ini oleh breeder semarang itu dicoba ke radicans [sirih berdaun ngedof/puyeh]. hasilnya, ternyata tak kalah bagusnya. bahkan daunnya jadi lebih rada mengkilap dibanding radicans.
[hal. 7]



sekali lagi, walaupun tidak menyebut nama, tapi karena foto anthurium adalah milik saya, maka komen aaach… penyebutan nama anthurium ini sebagai silangan [“radicans x dresslerii]” bukan dalam artian sebagai benar-benar baru disilangkan, tapi untuk menunjukkan bahwa anthurium jenis itu bukan spesies [f1], tetapi berasal dari perselingkuhan moyangnya si radicans dan dresslerii. barangkali dimaksud agar silsilah tanaman ini tetap bisa diketahui publik, tidak asal kasih nama baru aja [kaya siapa ya…] anthurium ini sudah banyak beredar dan umum dijumpai.
tapi maafin ya, klo ternyata bener-bener ada breeder yang sedang berjuang menyilangkan hybrid yang sudah relatif mudah dijumpai ini. [di kebun buanyak tuch he.. he..]


tambahan info yang masih berhubungan dengan artikel sirih di tabloid itu:
pada suatu kesempatan berdiskusi dengan beberapa orang amrik penghobby anthurium mengenai silangan radicans x luxuriens, mereka berpendapat bahwa yang disebut radicans x luxuriens [seperti tampak pada foto di tabloid tersebut. tabloid mengambil foto dari internet.]: sebenarnya adalah anthurium radicans x dresslerii.
foto yang ditampilkan sebagai crystallinum x luxuriens diambil tabloid dari web sebuah nursery di australia. dulu pernah berminat membeli jenis ini sih. tetapi anehnya, saat saya menanyakan perihal anthurium tersebut, mereka [pihak nursery] menjawab: “anda tidak akan memperoleh jenis tersebut di ujung dunia manapun, mustahil” loh!! maksud loe? *-)

anthurium watermaliense x anthurium lewellynii
nach yang ini juga hybrid produk lokal tapi berkelas international. pasalnya indukan yang digunakan sang breeder adalah spesies-spesies yang masih ori dari amrik. hybridisasi yang dilakukan breeder asal banyumanik jateng itu juga tak asal oles. tetapi betul-betul memperhatikan kelebihan dan kelemahan masing-masing indukan guna mendapatkan hasil yang bagus.
[hal. 8]



lah-lah… piye to mas wartawaan! kapan aku nyilanginnya? lha wong indukan lewellynii aja ga punya je… liat bentuk aslinya lewellyniipun belum pernah tuch.
yang nyilangin itu orang amrik sono. saya beli udah begitu wujudnya.
atau mungkin bukan saya yang dimaksud ya? [maaf, emang lagi belajar untuk mengurangi gr nich he.. he..]

salah satu hybrid yang dikembangkan di amerika ini bahkan sudah dikembangkan di jateng. pemiliknya, maria rina kolektor asal jl. trunojoyo ix-b/no. 7 banyumanik semarang. bahkan sudah sukses membiakkannya di sini serta membanderolnya dengan harga lumayan mahal. rp. 2,5jt per pot untuk ukuran tanaman abg dengan panjang daun sekitar 30cm.
[hal. 15]



ech masih lagi nich, biarpun ga nyantumin nama juga, tp fotonya itu lho… punya saya.
yaaaach… anthurium yang dimaksud memang sering berbunga, tapi belum pernah sukses berbiji! sekarang aja masih dalam rangka membiakkannya melalui stek batang.
btw, makasih banget untuk seluruh jajaran redaksi tabloid yang sudah mencantumkan [dengan benar] nama dan alamat saya secara free… makasih…

memang ada perbedaan perlakuan pemupukan antara keduanya. kelompok pertama atau yang di dataran rendah hanya diberikan “pupuk” berupa air tajin [bekas cucian beras] yang diberikan secara rutin.
sementara yang berada di dataran tinggi diberikan aneka macam pupuk komersial yang beredar di pasaran. namun pupuk-pupuk tersebut juga bersifat organic.
[hal. 23]



sepertinya, ulasan mengenai anthurium veitchii di atas pernah saya posting di sebuah forum anthurium. tapi kok beda 180 gini ya? kebalik tuch. pemberian air tajin dan tanpa penggunaan pupuk komersial adalah justru untuk veitchii yang dipelihara di dataran tinggi.

uuffhh… sebenernya masih banyak materi yang bisa seru dibahas dalam 1 edisi penerbitan tabloid tersebut.
memang beberapa tabloid agro yang lain, bahkan sebuah majalah tentang flora fauna bernama besarpun tidak becus [maaf…] menulis artikel, tanpa observasi asal tulis. justru merekalah yang seringkali menghembuskan berita tidak benar, dan pada akhirnya menciptakan opini yang salah pada public. pembodohan publikkah? betapa pembaca sangat mempercayai bahkan untuk seseorang yang sedang mulai belajar terkadang asal telan mentah-mentah segala yang tertulis di media. oooh… malang benar nasib pembaca, sudah bayar dapat berita boong lagi…
terakhir, mohon maaf kepada pihak tabloid yang bersangkutan, terlebih jika ada tulisan yang kurang berkenan. tiada maksud menyudutkan atau menjatuhkan, tetapi lebih supaya menjadi pembelajaran bersama ke depan.
jangan sungkan untuk menampilkan foto-foto anthuium saya lagi yaaa, tentu dengan berita yang yahuuuud dan dengan pemberitahuan terlebih dahulu.
salam anthur!!!

Sekedar mengingatkan, bagi yang suka foto-foto tanaman hias, apalagi suka posting di Internet, baik untuk kepentingan blog, jual-beli, mailing list, atau untuk sekedar pamer, sebaiknya “melindungi” koleksi fotonya dengan memberi label, water mark atau identitas apa saja di foto tersebut, jadi kalau ada orang lain yang menggunakannya, akan mudah untuk melacaknya.

Sumber : mariarina


Kamis, 18 Desember 2008

Anggrek, Kenapa Kuntum Bunga Rontok ?


Melihat tonjolan kecil muncul dari tubuh tanaman anggrek kita mungkin sudah sering kita alami. Akan tetapi akan sangat membahagiakan bila tonjolan kecil tadi tumbuh menjadi sebuah tandan bunga dengan calon kuntum yang berderet di sepanjang tandan bunga. Setelah hari demi hari dilalui, calon kuntum semakin membesar dan….tiba tiba1-2 buah calon kuntum menguning dan rontok….!!?? meskipun beberapa calon kuntum lainnya berhasil dewasa dan mekar sempurna, namun dalam hati ada rasa penasaran, mengapa hal tersebut terjadi….

Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan rontoknya calon kuntum bunga sebelum mekar. Berikut beberapa hal yang menyebabkan kerontokan calon bunga anggrek :

1. Bunga pertama yang muncul dari tanaman anggrek hasil kultur jaringan pada umumnya mengalami kerontokan beberapa calon bunganya, selain itu terkadang panjang tandannya pun hanya pendek dan membawa sedikit kuntum. Hal ini karena tanaman baru pertama kali memasuki fase generatif dalam daur hidupnya, sehingga metabolisme hormon maupun akumulasi atp (energi) masih belum sempurna.

2. Kurang cahaya dapat menyebabkan kerontokan. Saat cahaya terlalu rendah maka laju fotosintesis juga rendah, sehingga cadangan makanan yang diperoleh hanya sedikit. Saat tanaman dipacu pemupukan dengan formulasi untuk pembungaan, maka fisiologis tanaman dirangsang untuk masuk pada tahap dimana fase generatif lebih dominan. Akibatnya dengan cadangan makanan yang ada, si anggrek tetap ngotot untuk memunculkan bunga. Akhirnya, setelah tandan terbentuk, biasanya tandan bunga pendek, dan calon bunga banyak yang berguguran. Hal ini terjadi karena calon-calon kuntum bunga kurang mendapat suplai makanan dan energi. Calon bunga juga merupakan jaringan hidup yang memerlukan energi dan materi sel.

3. Kekeringan akibat suhu tinggi juga salah satu penyebab kenapa calon kuntum bunga rontok. Why?? karena saat suhu tinggi maka penguapan air pun juga tinggi. Cadangan air (kelembaban) pada media yang minim akan cepat hilang karena penguapan. Penguapan tidak hanya terjadi pada media (evaporasi) tapi juga terjadi pada permukaan tanaman anggrek itu sendiri (transpirasi). Bila penguapan air berlangsung terus menerus, maka tanaman akan kehilangan banyak air didalam selnya. Organ yang pertama kali terkena efek buruk dari menurunnya kadar air dalam sel adalah jaringan muda (meristem) seperti calon kuntum bunga, sehingga sel-sel calon kuntum akan menyusut dan jaringan tampak berkerut dan akhirnya gugur.

4. Perubahan suhu mendadak. Perubahan suhu drastis yang mendadak dapat menyebabkan perubahan fisiologis secara mendadak seperti menurunnya aktifitas enzimatis dalam tubuh tanaman. Aktifitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. Turunnya aktifitas enzimatis ini akan menimbulkan efek “stress” pada tanaman anggrek sehingga berbagai gejala seperti daun menguning dan rontok, calon kuntum bunga rontok dll. Tingkat suhu optimal untuk aktifitas enzim sangat bervariasi tergantung spesies. Selain itu, bagi anggrek dataran tinggi dalam keadaan memiliki calon kuntum, kemudian mendadak dibawa ke dataran rendah, maka penguapan air dalam tubuh tanaman akan drastis meningkat, sehingga organ tanaman yang sensitif (calon kuntum, ujung akar dll) akan menyusut dan layu. Hati-hati buat anggrek yang punya calon kuntum dan dibawa perjalanan jauh dan lama menggunakan mobil ber-ac atau ruang yang panas dan pengap, dikhawatirkan saat keluar mobil, si tanaman akan “terkejut” oleh perubahan suhu yang mendadak.

5. Konsentrasi pupuk daun yang terlalu pekat. Konsentrasi pupuk yang terlalu pekat selain berakibat buruk pada organ tanaman yang lain, calon kuntum bungapun juga sangat peka terhadap kerusakan. Apabila cairan pupuk daun yang terlalu pekat tersebut mengenai calon kuntum bunga maka, cairan pekat tersebut akan dengan mudah menembus dinding sel karena calon kuntum bunga merupakan jaringan muda yang dinding selnya masih tipis. Setelah menembus dindingsel maka cairan pekat akan menyebabkan osmosis yang tidak terkendali, sehingga cairan sel akan keluar dari dalam sel dan terjadilah plasmolisis. Membran sel akan berkerut dan rusak sehingga lambat laun sel akan mati. Dari tampak luar, akan terjadi pengeringan pada calon kuntum bunga kemudian rontok.

6. Invasi oleh lalat (lalat X, masih dalam pencarian tim litbang web.anggrek.org) kemungkinan besar semacam imago serangga dewasa mirip lalat buah atau kupu yang meletakkan telurnya ke bagian kuntum sehingga larva akan memakan kuntum, atau si lalat X tadi menghisap cairan sel dari calon kuntum.

7. Serangan kutu gajah. Kutu gajah memiliki kebiasaan “mencicip-cicip” jaringan jaringan muda untuk dia hisap cairan sel nya. Selain itu, kutu gajah dewasa juga melakukan ritual yang sama untuk menentukan posisi yang tepat untuk si buah hati tersayang. Setelah memperoleh posisi yang tepat dia akan mengebor bagian itu untuk meletakkan telurnya. Bagian kuntum bunga yang masih muda merupakan salah satu bagian favorit si kutu ini. Pas wawancara, kata dia sih rasanya “manis”.

8. Serangan penyakit. Serangan penyakit umumnya merupakan pengaruh sekunder akibat faktor lingkungan yang mendukung. Misal, kelembaban yang terlalu tinggi, sirkulasi udara yang tidak lancar, celah celah pada calon kuntum yang basah (untuk waktu yang lama). Semua hal tadi akan membangkitkan gairah si penyakit untuk melakukan penetrasi ke jaringan muda dari calon kuntum bunga yang notabene merupakan jaringan muda yang masih “empuk” dan sensitif terhadap gangguan pada fisiologisnya.

9. Pengaruh bahan-bahan zat kimia pengatur pertumbuhan seperti hormon dll. Penggunaan yang kurang tepat dapat menyebabkan ketidak seimbangan hormon endogen di dalam tubuh tanaman. Hal ini akan berlanjut pada gangguan pada metabolisme enzimatis pada tanaman, sehingga akan mempengaruhi pada pembelahan sel maupun pada metabolisme penyediaan energi bagi tanaman. Dapat juga menyebabkan peningkatan hormon etilen sehingga dimungkinkan menyebabkan kerontokan calon kuntum bunga.

anggrek.org
Pic by : Sukmanaya (2006)

Rabu, 17 Desember 2008

Sentra Bunga Cihideung, Pasar Bunga Penuh Potensi Wisata


Dari kota Bandung, bila hendak menuju Lembang, ada dua jalan utama yang dapat ditempuh. Pertama, melalui Jl. Dr. Setiabudi - Jl. Raya Lembang. Sementara jalur lainnya adalah melalui Jl. Sersan Bajuri. Jika melalui jalur ini, maka pemandangan hijau dan berwarna-warni dari deretan tanaman hias dan bunga menjadi teman sepanjang perjalanan. Itulah
desa bunga Cihideung. Daerah ini terkenal sebagai pusat penjualan bunga di Kabupaten Bandung.

Hamparan bunga beraneka jenis dan warna terlihat di sepanjang kiri dan kanan jalan. Berbagai bunga yang jarang ditemukan banyak sekali terdapat di sini. Seperti bunga Dahlia berwarna merah dan jingga yang tidak mudah ditemukan di tempat lain, bisa ditemukan di kawasan tersebut. Juga seperti bunga mawar jenis kertas yang berwarna-warni.

Sementara bunga bougenville, anggrek, miyana, mawar, dahlia, yanto (cereme), lolipop, sutra bombay, dan asoka menjadi bunga-bunga yang paling banyak dijumpai di hampir setiap halaman rumah di desa tersebut. Halaman dengan aneka bunga cantik itulah yang sekaligus dijadikan tempat menjajakan bunga dan tanaman hias lainnya.

Bukan itu saja juga ada berbagai jenis bonsai, cemara udang hingga cemara langka, serta tanaman keras lainnya. Tak hanya tanaman hias, pohon buah-buahan pun tak ketinggalan terpajang di sana seperti jeruk, strawberry, jambu air, dan jambu batu.

Semakin menambah keunikan di Cihideung beberapa pedagang menjual bunga yang jarang bisa ditemui di tempat lain. Seperti tanaman Terang Bulan atau lebih dikenal dengan tanaman rambutan jenis Terang Bulan termasuk tanaman langka, karena itu peminatnya sangat banyak.

Komoditas bunga hidup merupakan andalan penduduk desa Cihideung. Hampir semua penduduk di sana menggantungkan hidupnya dari berjualan bunga. Semua lahan di sepanjang Jalan Cihideung ditanami bermacam-macam bunga. Karena itu, orang-orang menyebut kawasan desa Cihideung ini sebagai taman bunga.

Cihideung sendiri berasal dari dua kata bahasa Sunda yaitu ci (berasal dari kata cai atau dalam bahasa Indonesia berarti air) dan hideung (dalam bahasa Indonesia berarti hitam).

Selain bunga, cukup banyak juga petani yang menanam dan menjual kaktus. Tanaman hias yang telah tumbuh sejak 100 juta tahun yang lalu ini disukai berbagai kalangan karena bentuknya yang sangat unik dan dapat hidup di semua tempat. Tanaman yang mampu menyimpan air pada batangnya itu, perawatannya sangat mudah. Yang penting cukup cahaya matahari, suhu, kelembaban udara dan sirkulasi udara yang cukup baik. Untuk penyiraman tidak perlu terlalu sering. Kalau pot sudah kering, baru disiram lagi.

Harga kaktus sangat bervariasi tergantung dari jenisnya. Namun, kaktus yang harganya berkisar antara Rp10.000 hingga Rp50.000 yang paling banyak dibeli oleh pencinta tanaman kaktus. Pembeli tanaman ini berasal dari berbagai kota di Pulau Jawa, bahkan sering dari berbagai daerah di luar Jawa.

Terkenal Sampai Luar negeri


Bagi masyarakat Kecamatan Parongpong, sektor pertanian merupakan sektor yang paling diandalkan, jauh melebihi sektor pariwisata dan industri. Ini sangat berkaitan dengan suburnya tanah di daerah itu, sehingga sangat cocok untuk ditanami berbagai bunga dan tanaman.

Namun dari tujuh desa yang ada di Kecamatan Parongpong, hanya empat desa yang mayoritas penduduknya bertani bunga. Keempat desa ini adalah Desa Cigugur, Desa Cihanjuang Rahayu, Desa Karyawangi, serta Desa Cihideung. Dari keempat desa ini, Desa Cihideung merupakan satu-satunya desa sentra bunga.

Desa Cihideung merupakan desa sentra bunga yang kini paling dikenal masyarakat luas. Namun untuk pembibitan, justru Desa Cihideung disuplai dari Desa Cigugur, Karyawangi, dan Cihanjuang Rahayu.

Selain bunga, beberapa tanaman untuk kebutuhan konsumsi juga dibudidayakan secara intensif di daerah ini. Beberapa di antaranya adalah cabai paprika, kentang, buncis, kol, dan tomat. Hasilnya pun cukup lumayan Bahkan cabai paprika sudah diekspor ke Singapura dan Taiwan, yang membuat nama Parongpong menjadi sangat terkenal. Padahal cabai paprika baru berkembang sekitar tahun 1998.

Hal itu membuktikan Sentra Bunga Cihideung sebenarnya memiliki potensi besar selain hanya sekadar menjadi pasar bunga, yaitu jadi daerah wisata bunga dan tanaman terpadu.

Bahkan beberapa sarana sebagai penunjang daerah wisata bunga dan tanaman saat ini sebenarnya sudah tersedia. Penginapan, misalnya, banyak tersedia di sekitar Sentra Bunga Cihideung. Tidak jauh dari daerah berhawa sejuk ini terdapat beberapa vila yang bisa disewakan. Satu di antaranya adalah Vila Istana Bunga. Kompleks hunian berbukit-bukit ini terletak sangat dekat dengan Desa Cihideung, hanya sekitar sepuluh menit perjalanan menggunakan mobil.

Selain fasilitas penginapan, di sekitar Desa Cihideung juga terdapat beberapa rumah makan dan restoran yang menyajikan berbagai menu masakan, mulai dari masakan tradisional Jawa Barat hingga masakan internasional

kapanlagi