adf.ly

Minggu, 16 November 2008

Saksikan Tanaman Dua Milyar


"Saksikan Tanaman Dua Milyar” begitulah bunyi sebuah spanduk, yang saya temui ketika pertama kali masuk ke area Trubus Agro Expo 2008 di Lapangan Parkir Timur Senayan. Sejenak pikiran saya menerawang. Setahun yang lalu sempat beredar kabar tentang satu pot Anthurium Jenmanii yang tembus angka Satu Milyar (Walaupun sampai sekarang masih belum jelas kebenarannya). Lalu tanaman macam apa yang berharga Dua Milyar ?.

Tanpa pikir panjang, saya langsung menuju sebuah tenda besar yang memasang spanduk dengan tulisan yang sama. Di dalam tenda yang luas itu dipajang tanaman-tanaman hias dari berbagai jenis dengan kategori eksklusif, langka dan berlabel mahal. Dari sini saya baru mengerti, bahwa ternyata apa yang dimaksud dengan “Tanaman Dua Milyar” adalah pameran sekumpulan tanaman hias yang apabila di total harga keseluruhan mencapai kurang lebih Dua Milyar. Berikut adalah parade tanamana hias eksklusif tersebut :

Dari pintu masuk, apabila mengambil jalan sebelah kanan, pengunjung disambut dengan sederetan aglaonema eksklusif, diantaranya :

Aglaonema Super Langka “HARLEQUIN” Koleksi Hary Setiawan (Irene Flora) yang dilabeli harga Rp. 150.000.000,-


BIDADARI Koleksi Hary Setiawan (Irene Flora) yang dilabeli harga Rp. 300.000.000,-


WIDURI Koleksi Krismanto seharga Rp. 50.000.000,-


TIARA Koleksi Krismanto seharga Rp. 50.000.000,-


INFINITY Koleksi Tuty Hairinoor


SUN SUN Koleksi Hary Setiawan (Irene Flora) dengan label Rp. 100.000.000,-


RINDU Koleksi Hary Setiawan (Irene Flora) seharga Rp.100.000.000,-


SEXY PINK Koleksi Songgo Tjahaja


Selanjutnya siap menyambut deretan Sansevieria eksklusif koleksi kolektor papan atas, diantaranya :

PINGUICULA ukuran Jumbo


MALAWI MIDNIGHT ukuran Jumbo Koleksi Arief


FISCHERII Variegata Koleksi Eddy Sebayang


PATENS Variegata Koleksi Eddy Sebayang


DORIS PFENNING Koleksi Adenium Nursery dengan label Rp. 30.000.000,-


SILVER BLUE Ukuran Jumbo Koleksi Eddy Sebayang


Puas dengan Sansevieria, pengunjung disambut barisan puring-puring eksklusif dengan harga puluhan juta hingga seharga mobil SUV Keluaran terbaru

ANGEL WING Koleksi Hendy dari Yogyakarta seharga Rp. 75.000.000,-


REMBULAN Koleksi Hendy seharga Rp. 120.000.000,-



DIANA Koleksi Hendy seharga Rp. 280.000.000,-


WIDURI Koleksi Firmansyah


Selanjutnya deretan Anthurium berukuran Jumbo siap menyambut

KERIS BLACK HYBRID


JENMANII PREDATOR Koleksi Iwan Hendrayanta


JENMANII COBRA & PREDATOR


HOOKERI


GARUDA


Setelah Anthurium, giliran beberapa pot Pachypodium unjuk gigi

LAMEREI Kristata Koleksi Rusli Handinata seharga Rp. 50.000.000,-


LAMEREI Kristata Koleksi Eddy Sebayang


Selepas deretan Pachypodium, pengunjung disambut oleh beberapa pot Adenium eksklusif ukuran besar. Kebanyakan dari Jeni Socotranum koleksi Socotra Garden






Berikutnya parade Bonsai FICUS MICROCARPHA Koleksi Oasis Nursery – Sentul, Bogor memamerkan keindahannya




Setelah Bonsai, beberapa tanaman unik dan Zamia menutup Parade tanaman dua milyar.

AGLAOMORPHA

CACTUS SPIRALIS Koleksi Godong Ijo

ZAMIA FURFURACHAE

Trubus Agro Expo 2008 Senayan


Menyambung Agro Expo 2008 sebelumnya di Taman Wiladatika – Cibubur, Trubus kembali menggelar rangkaian Agro Expo 2008 di Area Parkir Timur Gelora Bung Karno, Senayan - Jakarta. Expo yang diikuti tak kurang dari 200-an peserta ini akan berlangsung selama kurang lebih dua pekan, yaitu antara tanggal 8 – 23 November 2008.

Berbeda dengan agro expo sebelumnya, Expo kali ini terlihat lebih semarak dan meriah. Faktor lokasi yang lebih luas, jumlah peserta yang lebih banyak, serta jumlah kegiatan yang lebih bervariasi membuat gelaran kali ini terasa
lebih “hidup”. Selain bursa tanaman hias yang menjadi “jualan” utama, pihak penyelenggara berusaha menarik animo pengunjung dengan mengadakan “Pameran Tanaman Dua Milyar” (Selengkapnya baca postingan Pameran Tanaman Dua Milyar), serta berbagaimacam kontes tanaman hias. Tak mau berjalan sendirian, pihak penyelenggara menggandeng Komunitas Aglaonema Indonesia ( AI ) untuk menggelar Kontes Aglaonema pada Hari Minggu, 16 November 2008. Pada saat yang bersamaan, diadakan pula Lomba Sansevieria yang kali ini digelar atas kerjasama penyelenggara dengan Komunitas Pecinta Sansevieria Indonesia ( KPSI ) yang dilanjutkan dengan lelang Sansevieria setelah Lomba. Selain dua lomba tersebut diatas, panitia juga menggelar Lomba Anthurium dan Lomba Kreatifitas Anak.



Dari sekian banyak stan yang ditawarkan panitia, tampak terisi penuh tanpa satupun yang tersisa. Nama-nama seperti Godong Ijo, Istana Alam Nursery, Maharany garden, Bloomfield, Deesent Art Galery, tampil dengan andalan masing-masing.

Seperti pada expo sebelumnya, hampir semua jenis tanaman hias dijajakan dalam porsi yang berimbang. Khusus pada hari Sabtu dan Minggu kemaren, walaupun tidak bisa dibilang banyak, tetapi jumlah pengunjung terbilang cukup lumayan. Transaksi ?. Walaupun masih belum maksimal dan belum menggembirakan, setidaknya masih bisa membuat mayoritas stan tersenyum. Memang masih kalah jauh dari Indocomtech (pamerah komputer) yang pada saat bersamaan juga digelar dilokasi yang berdekatan (JCC).

Sebagai ilustrasi, silahkan simak rangkaian gambar-gambar berikut, yang diambil pada Minggu, 16 November 2008.





























Selasa, 11 November 2008

Lingkungan Pas, Sang Ratu Tersenyum Puas


Memelihara aglaonema memang tidak terlalu sulit. Tetapi untuk menghasilkan Aglaonema yang prima, aglaovers sudah selayaknya memperhatikan banyak hal terutama berkaitan dengan lingkungan dimana Aglaonema di pelihara. Walaupun aglaonema yang kini banyak dipelihara mayoritas adalah aglaonema hibrida, tetap saja ia akan tumbuh lebih bagus apabila lingkungan tumbuhnya dibuat semirip mungkin dengan habitat di alam aslinya.

Beberapa faktor berkaitan dengan lingkungan tumbuh aglaonema yang perlu diperhatikan
adalah sebagai berikut :

1. Ketinggian Tempat

Pada umumnya ada tiga kategori ketinggian tempat. Yaitu Dataran rendah antara 0 - < 300 M DPL (diatas permukaan laut), Dataran Sedang ( 300 - < 600 M DPL dan Dataran Tinggi > 600 M DPL. Aglaonema cocok tumbuh di dataran rendah dan sedang. Aglaonema akan tumbuh lebih ideal apabila dipelihara di daerah dataran sedang antara 300 – 400 M DPL. Di ketinggian tersebut sosok aglaonema akan menjadi tegap, berdaun tebal, warna dan corak menjadi lebih terang dan tajam.

Namun demikian, kondisi ideal itu masih bisa direkayasa sehingga aglaonema dapat juga tumbuh baik di daerah dataran rendah. Pemberian jaring peneduh, modifikasi lingkungan dan teknik penyilangan bisa membuat aglaonema adaptif dengan tampilan warna lebih bagus daripada aslinya.

Ketinggian tempat berpengaruh pada kecepatan pembentukan daun. Di dataran rendah, pertumbuhan daun aglaonemalebih cepat, lantaran sinar matahari lebih banyak tersedia, sehingga proses fotosintesa bisa dilakukan lebih lama. Disini pertumbuhan satu lembar daun kira-kira memakan waktu 25-30 hari. Di dataran sedang dan tinggi, perumbuhan daun aglaonema bisa 5-10 hari lebih lambat.

2. Suhu

Sebenarnya aglaonema mudah beradaptasi terhadap perubahan suhu. Namun temperatur optimal tetap diperlukan untuk menunjang pertumbuhannya. Di dataran sedang, suhu siang antara 24-27 C dan malam hari mencapai 18–21 C. Sedangkan di dataran rendah, suhu siang mencapai 27-30 C dan dimalam hari mencapai 21-24 C merupakan kondisi yang disukai.

Suhu dibawah 20 C akan merangsang butir-butir klorofil muncul lebih banyak, sehingga daun menjadi lebih hijau. Bila hal itu terjadi, maka warna merah akan tertutup oleh warna hijau daun. Sebaliknya kalau suhu terlalu tinggi, akan membuat warna daun menjadi pucat dan pudar.

Penyerapan beberapa unsur hara oleh akar juga dipengaruhi oleh suhu. Ambil contoh, penyerapan Fosfor. Jika suhu terlalu rendah, maka kemungkinan besar muncul gejala kekurangan unsur fosfor akibat terhambatnya penyerapan oleh akar.

Suhu sangat mempengaruhi proses kimiawi dalam tubuh aglaonema. Proses ini melibatkan peran enzim dan membran sel yang bekerja optimal pada suhu ideal. Diatas atau dibawah suhu ideal, dalam perbedaan ekstrim, proses kimiawi akan berlangsung lambat atau bahkan terhenti sama sekali. Pada kasus itu, tanaman menjadi stress dan pertumbuhannya terhambat.

3. Kelembaban

Kelembaban ideal bagi aglaonema adalah 50 – 75 %. Jika kelembaban kurang dari 50 %, kondisi terlalu kering sehingga daun aglaonema akan mengering. Di area berkelembaban rendah daun muda menjadi kering. Sebaliknya bila kelembaban lebih tinggi dari 75 % akan mendatangkan serangan cendawan. Untuk mengetahui kelembaban di kebun, sebaiknya dipasang alat pengukur kelembaban atau biasa disebut Higrometer.

Kehadiran higrometer terasa sangat penting, apalagi di daerah dengan curah hujan yang sangat tinggi. Hujan dengan disertai angin yang kencang akan membuat kelembaban lingkungan akan meningkat. Bila kelembaban menjadi terlalu tinggi, maka penguapan pada tanaman akan berkurang drastis. Akibatnya daya hisap aglaonema terhadap air dan unsur hara dari media tanam menjadi berkurang.

Kelembaban udara yang terlalu rendah, berakibat layunya aglaonema. Lama kelamaan kecantikan sang ratu daun bisa berkurang, atau bahkan menjadi mati apabila titik layu permanen terlewati. Itulah mengapa fungsi higrometer sangat penting sekali. Jika higrometer menunjukkan angka kelembaban yang sangat rendah, segera siram lantai lingkungan aglaonema dengan air, atau spray tanaman dengan kabut air unuk meningkatkan kelembaban.

4. Cahaya

Aglaonema di alam, ditemukan dibawah pohon di hutan-hutan dataran rendah dengan pencahayaan terbatas. Ia membutuhkan penyinaran sekitar 1.000-2.500 FC (Footcandle – Cahaya Lilin) tanpa langsung terkena sinar matahari. Jika sinar matahari terlalu banyak mengenai aglaonema, maka daun akan berubah menjadi cokelat kehitaman. Di Nursery-nursery, kebutuhan cahaya diatur melalui pemakaian Shading Net.

Kebutuhan cahaya aglaonema di dataran rendah dan dataran tinggi tentu berbeda. Untuk mengaturnya, gunakan penaung yang sesuai. Di dataran sedang, gunakan penaung 75 %, sedangkan di dataran rendah, gunakan penaung 80 - 85 %. Memang dipasaran bebas jarang tersedia penaung 85 %. Untuk menyiasatinya, gunakan dua lapis penaung.

Pemasangan penaung pun perlu diperhatikan. Semakin tinggi jarak penaung dengan aglaonema, maka sinar matahari yang masuk menjadi lebih banyak. Jadi gunakan penaung yang tebal agar sinar matahari tidak masuk secara berlebihan. Maklum, jika sinar matahari masuk secara berlebihan, akan membuat daun aglaonema menjadi terbakar, daun menguning, kemudian berubah menjadi cokelat kehitaman.

5. Sirkulasi Udara

Sirkulasi udara yang baik akan membuat lingkungan lebih seggar. Bila kelembaban baik, CO2 cukup tersedia disekitar tanaman. Hal-hal tersebut membuat tanaman lebih aktif menyerap unsur hara. Lancarnya peredaran zat hara berpengaruh dalam fotosintesa. Bila makanan tersedia di daun, maka proses perubahan zat hara menjadi energi bagi sri rejeki itu pun lancar. Bila perputaran udara tidak bagus, akibatnya kelembaban kan rendah atau tinggi. Bila terlalu rendah akan menyebabkan daun menjadi cokelat dan busuk.

Sirkulasi tidak baik jika udara hanya keluar masuk dari bagian atas rumah atau kebun aglaonema. Makanya perlu sirkulasi udara tambahan. Pasang kipas angin atau blower untuk menciptakan sirkulasi udara buatan. Letakkan kipas atau blower di tempat yang tepat dimana memungkinkan aliran udara menjadi lancar dan menjangkau seluruh tanaman. Jangan meletakkan kipas atau blower saling berhadapan, karena hal ini akan membuat aliran udara terpusat ditengah area.

Atur kecepatan angin tidak terlalu kencang, tetapi juga jangan terlalu rendah. Kipas angin diaktifkan selama 2 jam setelah penyiraman di pagi hari hingga pukul 10:00. Setelah menyiram sore hari, kipas angin juga bisa diaktifkan kembali hingga pukul 20:00 dengan kecepatan rendah, meningkat, lalu rendah lagi, kemudian dimatikan.

6. Atap dan Jaring Peneduh

Untuk melindungi aglaonema dari hal-hal yang tidak diinginkan, maka sebaiknya tempat pemeliharaan aglaonema diberikan atap dan jaring pelindung.

Atap pelindung akan melindungi aglaonema dari curahan air hujan secara langsung. Sedangkan Jaring peneduh berfungsi mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk mengenai tanaman.

Untuk atap pelindung, bisa digunakan beberapa pelindung seperti kaca, fiberglass, plastik, dll. Tanpa mempertimbangkan biaya, fiberglass seperti Solartuff paling bagus dipakai. Hanya saja konstruksi yang dipakai sebaiknya dari besi. Bahan ini mampu bertahan hingga 10 tahun. Lumut tidak akan tumbuh pada media ini. Sedangkan apabila biaya merupakan salah satu pertimbangan utama, makapilihan bisa dijatuhkan kepada Plastik UV. Plastik UV cukup kuat (bisa bertahan 2 tahun), ringan bagi konstruksi penyangganya, serta harganya relatif murah.

Sedangkan untuk Jaring peneduh, umumnya digunakan shading Net / Paranet. Pekebun dan hobiis aglaonema umumnya memasang Jaring peneduh diatas atap yang terbuat ddari plastik UV, sehingga sinar matahari yang menerpa atap bisa diredam semaksimal mungkin.

Untuk daerah dengan intensitas cahaya matahari lebih tinggi serta berada di daerah dataran rendah, seperti di Jakarta, bisa digunakan dua lapis jaring peneduh. Yaitu satu dipasang diatas plastik UV dan satu lagi dipasang dibawah palstik UV. Persentase jaring peneduh yang digunakan, disesuaikan dengan kebutuhan aglaovers dengan mempertimbangkan daerah dimana aglaonema dipelihara.

Demikianlah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan aglaonema, kaitannya dengan lingkungan dimana aglaonema dipelihara. Lingkungan yang terkondisi dan terjaga dengan pas, akan membuat sang ratu daun tersenyum puas. Semoga membantu.


Disadur dari : Trubus Infokit - Aglaonema
Foto : Koleksi Bp. Gede Sudarma

Minggu, 02 November 2008

Media Tumbuh Anggrek


Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pemilihan media tanam (media tumbuh) anggrek adalah tahan lama, tidak menjadi sumber penyakit, mempunyai aerasi dan drainase yang baik, mampu mengikat air dan unsur hara dengan baik serta mudah diperoleh.

Berbagai jenis media tumbuh yang umum digunakan antara lain pakis, moss, sabut kelapa, arang, serutan kayu, kulit kayu dan lain-lain. Pada dasarnya, menggunakan media tumbuh apapun, anggrek mampu beradaptasi dengan baik. Yang penting, faktor penyiraman dan pemupukan yang tepat untuk setiap jenis anggrek perlu diperhatikan. Sebagai contoh, di daerah dengan kelembaban tinggi, penggunaan media yang menyimpan banyak air tidak dianjurkan. Sifatnya yang selalu basah mengundang penyakit busuk akar dan busuk tunas anakan.

Berikut ini adalah jenis-jenis media tumbuh yang umum digunakan dalam penanaman anggrek.

1. PAKIS

Media tumbuh pakis berasal dari batang tumbuhan paku-pakuan. Pakis sangat baik digunakan sebagai media tanam karena mampu mengikat dan menyimpan air dengan baik, aerasi dan drainase yang baik, serta lapuk secara perlahan, sehingga mengurangi frekuansi penggantian media tanam, serta mengandung unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan anggrek.

Pakis dapat digunakan dalam bentuk cacahan, potongan atau lempengan. Untuk bibit yang baru dikeluarkan dari dalam botol, sebaiknya digunakan pakis bentuk cacahan halus. Untuk tanaman remaja atau dewasa lebih baik digunakan pakis cacahan kasar atau yang telah dipotong-potong. Ukuran cacahan atau potongan pakis disesuaikan dengan besar kecilnya pot. Bentuk lempengan digunakan untuk menempelkan tanaman remaja hingga dewasa.

Meski mempunyai sejumlah keunggulan, tetapi pakis juga mempunyai kelemahan. Media itu disukai semut dan hewan kecil lainnya atau bahkan mikroorganisme. Untuk mengatasinya, pakis perlu disterilkan sebelum digunakan. Caranya pakis dibersihkan atau dicuci dengan air, hingga kotoran seperti tanah atau sejenisnya hilang.

Untuk mencegah adanya mikroorganisme terutama cendawan, media direndam direndam dalam larutan fungisida. Contohnya Antracol, Benlate, Dythane atau sejenisnya dengan konsentrasi 0,1 hingga 0,2 %. Setelah sehari semalam, media diangkat dan dikeringkan. Media siap untuk digunakan.

Sterilisasi media juga dapat dilakukan dengan cara merebus pakis dalam air mendidih atau dikukus. Sayangnya karena keterbatasan tempat, volume media yang disterilkan terbatas.

2. MOSS

Moss berasal dari akar paku-pakuan atau kadaka. Jenis tumbuhan tersebut banyak dijumpai tumbuh dan melekat di batang pohon besar di hutan. Keunggulan moss yaitu daya mengikat dan menyimpan air sangat baik. Aerasi dan drainase udara baik, tidak cepat lapuk, mengandung unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, berongga udara banyak sehingga akar dapat tumbuh dan berkembang leluasa. Sebagai contoh, akar osmunda yang banyak digunakan penganggrek di Amerika bagian timur mengandung unsur Nitrogen sebanyak 2-3 %.

Berdasarkan karakteristik media paku-pakuan dikelompokkan menjadi empat, yaitu :

a. Sangat kasar, keras dan tebal. Contohnya Cyathea.SP.
b. Kasar dan keras. Contohnya Osmunda Sp
c. Halus dan keras. Contohnya Asplenium Falcatum. Jenis ini akan melunak apabila direndam dalam air
d. Lunak. Contohnya Asplenium Nidus. Jenis ini sangat baik utnuk pertumbuhan dan pertumbuhan akar tanaman yang baru dipisahkan dari tanaman induknya.

Ditoko pertanian banyak dijumpai media spagnum moss. Media ini dapat mengikat air dengan sangat cepat dan menyimpannya dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, media ini tidak dianjurkan untuk digunakan di daerah yang sering hujan. Pada umumnya media ini banyak digunakan pada anggrek Phalaenopsis. Namun tempat untuk meletakkan tanaman anggrek tersebut atapnya harus diberi lapisan penutup tembus cahaya yang diletakkan diatas paranet. Contohnya : Plastik, Fiber atau sejenisnya. Dengan demikian tanaman anggrek tersebut tidak terkena curah hujan langsung yang dapat mengakibatkan busuk.

Penggunaan mosss menemui kendala dengan ketersediaan bahan karena cenderung langka. Bila pakis dan moss diambil terus menerus dari hutan (alam) maka dikhawatirkan keseimbangan ekosistem dapat terganggu. Beberapa pemerintah daerah-pun mulai melarang eksploitasi dengan menerbitkan peraturan daerah.

3. SABUT KELAPA

Media sabut kelapa kini semakin banyak digunakan sebagai media tumbuh anggrek. Sabut kelapa memiliki keunggulan yaitu mudah mengikat dan menyimpan air dengan baik, mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman, serta mudah diperoleh dalam jumlah besar.

Sayangnya media ini mudah lapuk dan terlalu kuat menyimpan air, sehingga dapat menjadi sumber penyakit busuk akar dan busuk tunas anakan. Oleh karena itu, media sabut kelapa lebih cocok digunakan didaerah panas. Didaerah yang sering turun hujan, perlu menghindari penggunaan media ini. Bila terpaksa, kombinasikan dengan media yang tidak menyerap air, seperti arang kayu bakar atau sejenisnya.

Sabut kelapa mengandung beberapa unsur dan senyawa antara lain, K, P, Ca, Mg dan N. Selain itu, kaya bahan organik, abu, pektin, hemiselulosa, selulosa, pentosa dan lignin. Pektin berfungsi sebagai penguat lapisan tengah dinding sel. Hemiselulosa dan selulosa penyusun utama dinding sel yang berfungsi untuk memperkuat sel-sel kayu. Lignin berfungsi untuk mengeraskan dinding sel. Calsium selain berfungsi menguatkan dinding sel, juga mengaktifkan pembelahan sel-sel meristem. Magnesium sangat penting dalam pembentukan chlorofil.

Bila ingin menggunakan sabut kelapa sebagai media, pilih sabut kelapa dari buah kelapa yang sudah tua, sebab proses dekomposisinya sangat lambat, sehingga lebih tahan lama.

Gunakan sabut yang masih melekat kulit luarnya, dan sudah dipotong-potong atau hanya serat-seratnya. Serbuk sabut kelapa (choir dust) yang merupakan bagian dari sabut kelapa belum banyak dimanfaatkan secara baik, namun dibeberapa negara, serbuk ini telah dimanfaatkan sebagai bahan pupuk atau bahan media tumbuh tanaman hias lain.

Serat sabut kelapa digunakan saat tanaman masih kecil seperti kompot atau seedling. Untuk tanaman remaja/dewasa gunakan sabut kelapa dalam bentuk potongan. Ukuran potongan disesuaikan dengan ukuran wadah atau pot.

Agar tidak cepat membusuk, sterilkan media ini terlebih dahulu. Caranya sama dengan sterilisasi pakis. Setelah tanaman tumbuh, lakukan penyemprotan fungisida lebih sering, karena kelembaban dalam pot sangat tinggi. Pada kondisi lembab, mikroorganisme cepat tumbuh dan berkembang.

4. ARANG KAYU

Media arang umumnya digunakan dalam bentuk potongan-potongan, terutama untuk tanaman ukuran remaja atau dewasa. Besar kecilnya potongan arang diseduaikan dengan ukuran tanaman serta besar kecilnya ukuran pot.

Sifat arang antara lain, tahan lama, tidak mudah ditumbuhi jamur dan bakteri, dapat menyerap senyawa yang berfifat racun/toksik, Dan mudah melepaskannya kembali setelah penyiraman. Sayangnya arang sulit menyerap dan menyimpan air. Arang hanya mampu mengikat air dipermukaan saja dan tidak mengandung unsur hara. Arang bisa menjadi pilihan penganggrek di daerah berkelembapan tinggi sehingga kebusukan akar dan tunas anakan dapat dihindari karena akar senantiasa kering. Karena sulit menyimpan air dan miskin hara, maka frekuensi penyemprotan air dan pupuk perlu ditingkatkan. Komposisi kimiawi arang kayu sebagian besar mengandung karbon (C), sedangkan kandungan sulfur (S) dan fosfor (P) sangat sedikit, serta abu.


5. SERUTAN DAN POTONGAN KAYU

Serutan atau potongan kayu dapat pula jadi pilihan media. Untuk itu, pilih bahan yang berasal dari pohon atau tanaman tua. Keunggulannya aerasi dan drainase baik; banyak rongga-rongga udara sehingga akar tanaman leluasa tumbuh dan berkembang. Proses pelapukan lambat karena mengandung senyawa-senyawa yang sulit terdekomposisi, seperti selulosa, hemiselulosa, dan lignin.

Kelemahan serutan atau potongan kayu yaitu daya simpan air kurang baik dan miskin unsur N. media ini juga sering digunakan untuk menanam anggrek terestrial, yaitu anggrek yang tumbuh di permukaan tanah serta membutuhkan cahaya matahari penuh. Penggunaan media serutan kayu ini biasanya dicampur dengan kompos atau pupuk kandang yang telah steril.


6. PECAHAN BATU BATA ATAU GENTING

Pada umumnya, pecahan batu-bata atau genting diletakkan di dasar pot. Tujuannya memperbaiki aerasi dan drainase udara dalam pot. Pengisian pecahan batu-bata atau genting jumlahnya kira-kira sepertiga (1/3 bagian) dari tinggi pot atau tergantung dari tingkat kelembapan yang dibutuhkan. Selain itu, pecahan batu-bata atau genting juga berfungsi agar wadah atau pot yang digunakan tidak mudah rebah.

Adanya rongga-rongga udara di antara pecahan batu-bata atau genting memberi kebebasan akar anggrek untuk tumbuh dan berkembang kesegala arah. Di samping itu juga sebagai tempat atau jalan masuk oksigen yang diperlukan oleh akar untuk proses respirasi. Media itu juga dapat menjaga tingkat kelembapan.

Pecahan batu bata lebih mudah dan banyak menyerap serta menyimpan air dibandingkan dengan pecahan genting. Namun, demikian pecahan batu bata lebih cepat ditumbuhi algae (ganggang) dibandingkan dengan pecahan genting.

7. PENGGANTIAN MEDIA BARU

Penggantian media baru (repotting) perlu dilakukan karena :

a. Tanaman dalam pot atau wadah sudah terlalu penuh atau padat yang mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak optimal lagi.
b. Media lama sudah hancur karena mengalami dekomposisi sehingga bersifat asam dan dapat mengakibatkan menjadi sumber penyakit.

Semoga membantu.

Sumber : Bertanam Anggrek, oleh Dyah Widiastoety darmono, Penerbit Panebar Swadaya
Foto (Orchid Painting) taken from http://www.orchid.org.uk/neos/neosartgallery.htm